Kartun adalah rangkaian gambar yang menjadi media penyampai suatu peristiwa atau keadaan. Dalam bahasa Italia istilah cartoon bila diartikan adalah kertas, sedangkan dalam bahasa Inggris berarti gambar yang bersifat satire.

Sementara, dalam The World Book Encyclopedia (1992) kartun berarti gambar atau serangkaian gambar yang memuat cerita atau pesan dalam wujud sindiran atau humor.

Kartun biasanya identik dengan cerita-cerita lucu yang menghadirkan banyak gelak-tawa. Oleh sebab itu, banyak masyarakat yang gemar membaca kartun. Namun, ada juga kartun yang dibuat untuk menyampaikan hal-hal lain, seperti kritik atas kondisi yang ada di masyarakat.

Di Indonesia, tercatat banyak kartunis hadir dengan ragam karyanya. Ada yang melucu dan ada pula yang mengritik. Ya, mengritik memang hal yang dihalalkan di Indonesia, negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi.

Ada deretan nama kartunis di Indonesia yang kerap kali membuahkan karyanya dalam bentuk kritik. Siapa saja mereka? Berikut lima sosok kartunis Indonesia yang berani menyampaikan kritik dengan unik melalui karya-karyanya.

Baca Saja: Peringati Hari Sumpah Pemuda Ke-92, Kapolres Tanjung Perak Berikan Penghargaan

1. Benny Rachmadi

Benny Rachmadi adalah kartunis kelahiran Samarinda tahun 1969 silam. Ia merupakan lulusan Desain Grafis dari Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Tahun 1998, Benny berkiprah di tabloid dan harian Kontan.

Benny terkenal sebagai kartunis yang banyak membuat strip komik berisi kritik-kritik sosial. Namun, cara Benny dalam menyampaikan kritik-kritiknya dalam beberapa bentuk yang jenaka. Pemerintah kerap kali menjadi objek karyanya. Ia mengaitkan pemangku kekuasaan dengan realitas di masyarakat.

2. Muhammad Misrad

Muhammad Misrad adalah kartunis yang lebih dikenal dengan sebutan Mice. Sosoknya tak bisa dilepaskan dengan Benny Rachmadi. Keduanya merupakan lulusan Desain Grafis IKJ dan berduet membuat strip komik berisi kritik-kritik sosial. Seri komik keduanya terbit di koran Kompas dan dikenal dengan sebutan Benny & Mice.

Mice banyak menggambar kartun berupa keluhan terhadap Jakarta. Tak hanya itu, krisis ekonomi yang melanda Indonesia juga kerap disentil oleh Mice.

Salah satu karya yang terkenal dari Mice adalah bukunya berjudul ‘Politik Santun dalam Kartun’. Mice selanjutnya berkarya sendiri di koran Kompas dan menamai kreasinya dengan Mice Cartoon pada tahun 2010.

3. GM Sudarta

Bernama lengkap Gerardus Mayela Sudarta, pria ini lahir pada 20 September 1945 silam. Nama GM Sudarta dikenal sebagai karikaturis atau kartunis harian Kompas.

GM Sudarta disebut-sebut sebagai salah satu karikaturis berpengaruh di Indonesia. Melalui tokoh rekaannya, yaitu Oom Pasikom, ia menempatkan dirinya sebagai saksi penting penting perjalanan Indonesia dari era Orde Baru hingga reformasi.

GM Sudarta mempunyai resep supaya karya-karyanya aman selama pemerintahan terkesan opresif, seperti Orba dahulu. Ia membubuhkan senyum kepada mereka yang dikritik supaya terhindar dari marah.

 

Beragam karya GM Sudarta telah melegenda. Beragam kritik kepada pemerintah telah ia gambar meski ada beberapa yang mendapat sensor. Sosoknya pun kini melegenda, GM Sudarta meninggal dunia pada 30 Juni 2018 pada usia 73 tahun.

4. Koesnan Hoesie

Koesnan Hoesie adalah salah satu kartunis senior Indonesia yang kerap kali melontarkan kritik. Ia lahir 25 Desember tahun 1962 lalu.

Koenan Hoesie mulai berkarier di dunia kartun tahun 1981. Dulunya, Koesnan Hoesie menyalurkan karyanya lewat harian Wawasan. Namun, kini ia telah pensiun dari harian tersebut.

Nama Koesnan Hoesie juga pernah tercatat sebagai pemegang rekor perorangan kartun terpanjang di dunia versi MURI tahun 1990. Kala itu, Koesnan Hoesie membuat kartun sepanjang 500 meter. Ia kembali mendapat penghargaan dari MURI tahun 1996 dengan membuat kaus politik terbesar di dunia.

5. Goenawan Pranyoto

Goenawan Pranyoto alias Goen adalah kartunis Indonesia kelahiran Purwokerto, 30 April 1951. Ia terkenal melalui karyanya bertajuk ‘Wayang Mbeling’. Kartun tersebut merupakan langganan ‘wajib’ pelajar SMP dan SMA generasi ’80-’90-an.

Karakter dalam serial kartunya tersebut bisa dibilang unik. Ia memadukan sosok berkostum wayang dengan sosok modern.

Dalam beberapa karyanya, Goen juga pernah menyentil masalah-masalah klasik Indonesia, seperti korupsi. Bersama beberapa kartunis lainnya, Goen tercatat pernah mendirikan Semarang Cartoonist Club (Secac). Pada masa jayanya, anggota Secac mencapai 470 orang yang jumlah itu dianggap tak pernah bisa disamai kelompok kartunis lain di Indonesia.

Kini, Goen telah meninggal dunia. Ia meninggal setelah lama berjuang melawan penyakit stroke yang dideritanya.

Baca Saja: Wajib Tahu Fakta Fakta Dan Manfaat Bioglass Mci yang Sebenarnya