Umumnya wanita bakal bahagia bukan main kalau melihat dua garis di test pack karena itu artinya, kemungkinan besar ada calon bayi di rahim kita. Tapi, itu nggak dialami sama ibu dua anak waktu tahu dia hamil anak ketiganya.

Sebut aja nama bunda ini Mia. Waktu itu, anak pertama Mia yang berjenis kelamin perempuan umurnya 6 tahun dan anak keduanya, laki-laki berumur 6 bulan. Merasakan tanda-tanda kehamilan, Mia lantas tes kehamilan pakai test pack. Melihat dua garis di test pack yang artinya kemungkinan besar dirinya hamil, tangis Mia pecah, Bun. Lututnya seakan lemas dan dia terduduk di lantai dapur.

“Kehamilan itu nggak saya inginkan. Saya nggak mau punya anak yang ketiga. Buat saya, punya anak perempuan berumur 6 tahun dan anak laki-laki umur 6 bulan sudah cukup. Keluarga kami sudah lengkap,” kata Mia.

Bahkan, saat itu dia nggak cuma panik atau khawatir. Saking nggak menginginkan kehamilan ketiganya, Mia menyebut dirinya sempat marah sama Tuhan, Bun. Kata Mia, dia punya alasan kenapa nggak menginginkan kehamilannya itu. Di kehamilan pertama, Mia dan suami nggak merasakan perjuangan yang terlalu berat. Semuanya berjalan dengan mudah. Tapi kondisinya nggak sama ketika Mia merencanakan punya anak yang kedua. Dalam kurun waktu dua tahun, Mia keguguran 3 kali. Belum lagi masalah infertilitas cukup bikin Mia dan sang suami frustasi. Hingga akhirnya Mia hamil dan setelah anak keduanya lahir, Mia merasa hidupnya makin kacau. Si kecil kolik, sulit menyusu dan susah bukan main kalau mau tidur.

“Hari-hari saya diisi dengan argumen bersama suami. Kami selalu ribut. Meributkan jam tidur kami yang kurang sampai gimana nanti membayar daycare kalau saya sudah kembali kerja. Untungnya, semuanya perlahan membaik,” kata Mia.

Tahu kabar ini, suami Mia justru senang karena memang dia masih ingin menambah satu momongan. Tapi buat Mia, hari demi hari dia jalani dengan penuh beban. Dan tanpa diduga, pikiran Mia soal kehamilannya berubah ketika dia ngobrol sama teman-temannya yang curhat susah punya anak. Saat itu, Mia merasa bersalah. Ya, kehamilan yang semestinya jadi anugerah dan keajaiban dia sikapi bak kutukan.

Sejak itu, Bun, pola pikir Mia berubah dan dia pun justru bersyukur masih dipercaya Tuhan untuk punya seorang anak lagi. Akhirnya, anak ketiga Mia lahir, jenis kelaminnya perempuan. Kini, Mia merasa keluarganya makin ‘kuat’ dan komunikasinya dengan sang suami makin baik.

“Nggak ada lagi drama seperti saat anak kedua saya lahir. Melihat si sulung bisa mengayomi kedua adiknya dan melihat anak kedua saya menyelimuti adiknya adalah hal terindah yang saya pernah lihat,” tutur Mia kepada Pop Sugar.Memang ya, Bun, ada seorang wanita yang nggak menginginkan kehamilannya. Ketika ini terjadi, dr Dyana Safitri SpOG bilang nggak ada dampaknya langsung ke janin. Tapi, ketika ibu nggak menerima kehamilannya, dia bisa stres dan tertekan. Nah, di sinilah masalahnya. Seperti kita tahu kalau hormon stres kortisol bisa berdampak nggak baik untuk bayi.

“Apalagi kalau ibunya udah nggak menerima kehamilannya dia bisa abai sama kondisi dia dan janin. Nah, itu yang bisa berefek buruk buat calon bayinya,” kata dr Dyana yang berpraktik di RS Siloam Lippo Karawaci.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here