Perubahan cuaca di beberapa wilayah di Indonesia terjadi tidak lepas dari munculnya siklon tropis. Ini penjelasan ahli tentang bentuk siklon tersebut.

Ahli cuaca dan iklim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Armi Susandi menjelaskan siklon merupakan awan yang berputar sambil membawa air dari laut. Ketinggian awan tersebut sangat dekat dengan permukaan air laut.

“(Siklon) itu awan berputar. Awan yang berputar sambil dia membawa air dari laut dan dia ada titiknya, titik matanya. Dia berputar terus-menerus, setiap air itu kan hangat tuh, dan awannya tuh rendah,” ujar Amri saat dihubungi detikcom, Rabu (29/11/2017) malamMenurut Amri, jarak normal antara awan dengan permukaan air laut sekitar 12-15 km. Sedangkan siklon, jarak antara awan dan permukaan air laut hanya 1 km.

“Kalau awan itu rata-rata 12-15 km dari permukaan laut. Nah, (siklon) ini cuma 1 km. Sangat dekat banget dengan lautan. Diangkat itu air sambil berputar-putar, semakin lama semakin besar awannya dan dia selalu menuju ke daratan,” terang Amri.

Karakteristik utama siklon, lanjut Amri, selalu mencari daratan karena suhu di daratan dipastikan lebih rendah dibanding lautan. Siklon dengan sendirinya akan menjadi awan biasa setelah tiba di daratan.

“Karena di daratan itu temperaturnya lebih rendah daripada lautan. Sampai dia di daratan dia melepaskan. Tenaganya akan berkurang kalau dia ada gesekan yang ada di daratan, entah gedung, entah rumah penduduk. Dia berkurang tuh tenaganya sampai dia mati,” jelas Amri.

Sebelumnya diberitakan, Skilon Tropis Cempaka sudah terbentuk pada 27 November 2017 dan menerpa beberapa daerah di selatan Pulau Jawa di antaranya Yogyakarta dan Pacitan. Dampaknya, curah hujan di dua daerah itu begitu tinggi dengan kecepatan 286 mm/hari di Yogyakarta dan 383 mm/hari di Pacitan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here