•  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Salah satu jenis daging yang sudah ribuan tahun hadir dalam khazanah kuliner dunia adalah daging ayam. Salah satu argumen arkeologi tertua yang pernah diungkapkan West dan Zhou (1988), ayam yang sudah diternakkan itu berasal dari dataran China, dan sudah ada sejak sekitar 6000 SM. Dalam buku The Cambridge History of Food, ayam yang sekarang kita makan itu berasal dari Tarim Basin, sebuah area purbakala yang sekarang dikenal sebagai sebagian dari Nanjiang, China. Ayam itu kemudian menyebar ke Eropa dan seluruh dunia sekitar 3000 SM.

Begitu pula di Indonesia, yang memang sudah mengenal ikatan batin panjang dengan ayam. Dalam wawancara Joss Wibisono dengan Hedi Hinzler, pakar Jawa Kuno, ayam sudah dipakai untuk sesaji kepada para dewa sejak kerajaan Jawa kuno, seperti ditulis di kitab Nagarakretagama. Dan tentu saja, sama seperti di belahan dunia manapun, daging ayam di Indonesia menjadi lebih murah dan makin banyak dikonsumsi saat diternakkan dalam skala gigantis pada abad 20-an. Sejak saat itu, ayam menjadi pilihan protein yang lebih terjangkau harganya.

Karena masakan ayam yang tak asing bagi orang Indonesia, termasuk ayam goreng tepung, maka resto cepat saji seperti KFC dengan mudah disukai di sini. Pada 1979, PT Fastfood Indonesia yang merupakan anak usaha Gelael, membuka restoran KFC pertama di Indonesia. Tak butuh waktu lama untuk resto ini membuka gerai-gerai baru. Hingga 2015, KFC mempunyai sekitar 540 gerai di seluruh Indonesia. Tahun 2016 diperkirakan ada tambahan 40 gerai lagi.

KFC mudah disukai di Indonesia karena memajang menu ayam. Dikombinasikan dengan nasi, ini jelas bukan rasa yang asing di lidah warga Indonesia. Karena itu, tak perlu perkenalan atau adaptasi lidah terhadap menu-menu KFC.

Ini yang selalu sukar dilawan rivalnya di Indonesia: McDonald’s. Resto cepat saji yang juga berasal dari Amerika Serikat ini pertama kali hadir di Indonesia pada 1991. Mereka juga punya menu ayam. Namun berbeda dengan KFC yang menjadikan ayam sebagai tulang punggung menu, McD internasional memakai daging ayam bukan sebagai produk utama. Memang menu daging ayam sudah muncul sejak lama. Setidaknya pada 1968, McD mengenalkan produk ayam goreng, diiklankan besar-besaran, yang dipromosikan sebagai, “…ayam goreng yang rasanya mendekati ayam goreng buatan ibumu.” Tapi kemudian penjualan menurun, membuat McD tetap mengandalkan produk burgernya. Daging ayam lalu dipakai untuk isian di berbagai jenis menu, semisal di snack wrap, atau artisan grilled chicken. Hingga sekarang, menu ayam dianggap langka di gerai McD luar Asia.

Namun di Indonesia, negara yang sebelumnya nyaris tak pernah mengenal burger, McD tentu harus putar otak. Mereka kemudian membuat menu ayam goreng yang galibnya dikombinasikan dengan nasi. Sebelumnya menu ayam di McD, menurut penuturan penulis Sharmila Nair, pertama kali diperkenalkan di Malaysia. Resto ini pertama kali dibuka di Malaysia pada 1982. Sekarang, sekitar 60 persen produk di McD Malaysia berbasis ayam. Tapi apakah kemudian McD bisa menggeser popularitas KFC? Tunggu dulu.

Beberapa waktu lalu, lembaga riset W & S Market Research mengadakan survei tentang popularitas restoran fast food di tiga negara: Indonesia, Vietnam, dan Thailand. Dari sana, terlihat kalau KFC amat berjaya di Indonesia. Pertama dari segi jumlah gerai. Hingga 2015 KFC punya 540 gerai. Sedangkan McD, hingga Februari 2016, baru memiliki sekitar 168 gerai.

Kemudian responden Indonesia diberi pertanyaan, semisal: coba sebutkan restoran cepat saji yang kamu tahu. Sekitar 55 persen menyebut KFC. Diikuti oleh 27 persen yang menyebutkan McD. Ini membuktikan kalau di kalangan top of mind orang Indonesia, KFC jauh lebih dikenal ketimbang pesaingnya. Pertanyaan lain: restoran cepat saji mana yang paling sering dikunjungi? Sekitar 46 persen menjawab KFC. Sedangkan McD hanya mendapat angka 20,5 persen, diikuti Hoka-Hoka Bento yang mendapat 10 persen.

Rivalitas antara dua resto populer ini juga pernah dibuatkan polling di situs populer anak muda, Kaskus. Pada 2014, seorang pengguna Kaskus dengan akun bernama Verdhanaalva, membuat polling sederhana dengan dua pilihan. Hasilnya, sekitar 70 persen memilih KFC. Sisanya baru McD. Alasannya beragam, tapi sekaligus bisa memberikan gambaran kasar di menu apa mereka unggul.

Sebagian besar yang memilih KFC, pasti datang ke sana untuk makan ayam gorengnya. Sedangkan konsumen McD kebanyakan datang untuk makan burger dan aneka jenis wrap, juga es krim. Perbedaan ukuran juga menjadi keunggulan KFC. Ayam goreng buatan mereka memang cenderung lebih besar. Sedangkan keunggulan lain McD adalah soal harga yang kerap dianggap lebih murah, terutama untuk berbagai jenis kudapan. Bisa dibilang, untuk pasar ayam goreng, KFC di Indonesia nyaris tak punya pesaing berat. Namun di sisi lain, McD juga tak bisa berlena-lena di pasar burger karena ada banyak pesaing yang punya nama besar, seperti Burger King, Wendy’s, atau Carl’s Jr.

Dengan popularitas besar di kalangan konsumen cepat saji Indonesia, wajar kalau pendapatan KFC selalu besar. Pada 2015 saja, restoran yang hak waralabanya dipegang oleh Fastfood Indonesia ini mendapatkan pemasukan sekitar Rp4,47 triliun. Hingga semester I-2016, mereka mencatat kenaikan pendapatan 11 persen, dan pertumbuhan laba sebesar 55 persen ketimbang periode sama tahun 2015.

Namun di tingkat global, McD tampak bisa berbicara lebih banyak. Mereka menjadi restoran waralaba terbesar di dunia. Mereka punya sekitar 36 ribu gerai di seluruh dunia. Sedangkan KFC hanya sekitar 19 ribu gerai. Secara valuasi perusahaan, McD pun jauh lebih besar, yakni sekitar 88,6 miliar dolar. Sedangkan KFC hanya punya valuasi sekitar 12,3 miliar dolar.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •