Paus Fransiskus : Islam Bukan Agama Teroris

1
43366
   

Oleh :Dr. Slamet Muliono*

Terorisme memang sengaja disematkan dan dipaksa untuk dilekatkan pada Islam. Berbagai peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seseeorang atau sebuah komunitas, baik secara terbuka maupun samar, pasti akan diarahkan tuduhannya kepada umat Islam. Bahkan fakta-fakta pembunuhan, yang dilakukan oleh orang mereka yang jauh dari dari atribut Islam sekalipun, terus saja dipaksakan pada orang Islam. Namun wacana ini seolah terbantahkan dengan pengakuan seorang petinggi agama Katolik yang menyampaikan pikirannya secara jujur bahwa tindakan terorisme bukanlah hak milik umat Islam, namun juga ada dan dilakukan oleh orang-orang berbagai latar belakang agama, termasuk Nasrani.

Pernyataan ini diungkapkan secara jujur oleh pemimpin keagamaan Katolik, Paus Fransiskus, yang menyebut bahwa tidak adil jika mengaitkan terorisme dengan agama Islam. Menurutnya, penyudutan Islam dengan ajaran teror tidaklah benar dan tepat. Paus menyebut bahwa ketidakadilan sosial dan pemberhalaan uang adalah penyebab utama terorisme. Terkait dengan penyudutan agama tertentu dengan pemikiran terorisme, Paus juga menyebut bahwa dalam agama Kristen pun ada yang memiliki pemikiran tersebut, dan hal ini terjadi pada hampir semua agama selalu ada kelompok kecil fundamentalis.

Dia menyatakan tidak suka membahas kekerasan Islam karena setiap hari dia juga membaca surat kabar tentang aksi ke kekerasan di Italia, ada yang membunuh pacarnya, ada yang membunuh mertuanya. Mereka semua umat Katolik yang terbaptis. Menurutnya kalau ada yang membicarakan tentang kekerasan Islam, maka seharusnya ia juga membicarakan kekerasan dalam agama Katolik. “Andai saya berbicara soal kekerasan Islam, saya juga harus membicarakan kekerasan Katolik. Tidak semua muslim keras,” katanya. (Fokusislam.com.1/82016)

Apa yang disampaikan oleh pemimpin tertinggi Katolik ini, setidak ada beberapa poin penting

Pertama, fundamentalisme bukan hanya ada dalam agama Islam. Fundamentalisme juga ada pada setiap agama, seperti juga pada agama Nasrani yang menghabisi dan membunuh pengikut agama lain serta menginginkan agamanya saja yang berdiri tegak. Pikiran fundamentalisme ini mendorong untuk melakukan pembunuhan terhadap penganut agama lain. Fundamentalisme juga ada di dalam agama Yahudi, yang tidak berbeda dengan fundamentalisme agama lain. Fundamentalisme Yahudi juga mengangankan agamanya yang paling benar dan menginginkan pemusnahan terhadap agama lain. Apa yang terjadi di Palestina, dimana orang-orang Israel bukan hanya ingin merebut tanah Palestina, tetapi juga ingin memusnahkan warganya. Sayang sekali perilaku Israel  yang terus menerus membunuh enduduk Palestina tidak dikategorikan sebagai aksi terorisme.

 Kedua, tumbuhnya terorisme karena ketidakadilan sosial. Berbagai aksi terorisme dan radikalisme seringkali disematkan pada orang-orang muslim, sementara realitas ketidakadilan yang menjadi latar belakang aksi terorisme tidak pernah diungkap. Kebanyakan aksi terorisme dilakukan sebagai reaksi atas hegemoni negara-negara Barat di dunia Islam. Salah satu contoh nya, negara-negara Barat menguasai atau menghegemoni sumberdaya alam negara-negara Islam.  Mereka bebas mengeksploitasi kekayaan negara-negara Islam, sebagaimana yang dilakukan Amerika Serikat (AS). Bahkan terorisme juga dilakukan sebagai respon atas tindakan AS yang melampaui batas dalam mengacak-acak dan mengadu domba negara-negara teluk sehingga memupuk rasa benci kepada AS dengan melakukan aksi terorisme.

Ketiga, pendorong aksi terorisme adalah pemberhalaan terhadap uang. Berbagai aksi  terorisme yang dilakukan oleh umat Islam tidak sepenuhnya murni menegakkan jihad atau untuk memperjuangkan penegakan syariat Islam tetapi lebih banyak untuk memperoleh kekayaan atau uang. Bukan rahasia umum bahwa perjuangan yang dilakukan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) bukan semata-mata untuk memperjuangkan dan berjihad melawan AS tetapi semata-mata untuk memperoleh keuntungan duniawi. Kalau memang benar-benar untuk menegakkan khilafah Islamiyah, semestinya pertama kaliyang diserang adalah rezim Suriah yang jelas-jelas melakukan pembunuhan terhadap muslim Sunni. Semestinya ISIS juga akan menyerang Rusia, yang jelas-jelas identitasnya sebagai non muslim dan banyak membunuh warga Suriah. Namun semua itu tidak dilakukan oleh organisasi yang dibentuk organisasi yang banyak disinyalir dibentuk oleh AS. Bahkan perilaku sadis dan kejam yang ditunjukkan ISIS, dalam membunuh lawannya, sangat jauh dari nilai-nilai dan dan akhlaq Islam.

Pengakuan pemimpin tertinggi Katolik merupakan peneguhan bahwa terorisme bukan hanya ada pada umat Islam tetapi ada dalam semua pemeluk agama. Namun dalam tataran empirik, teorisme memang sengaja disematkan kepada umat Islam untuk memerangi Islam. Diakui atau tidak bahwa terorisme juga melanda pada agama Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan yang lain, namun hal itu tidak pernah disorot atau dibesar-besarkan. Bahkan ketika kejahatan yang dilakukan oleh kelompok non-muslim, saat membantai komunitas muslim, tidak pernah ada pihak yang menyematkan identitas teroris pada mereka.

Apa yang disampaikan oleh Paus Fransiskus merupakan sebuah fakta sebagaimana yang dipaparkan Al-Qur’an bahwa persahabatan kelompok Nasrani lebih dekat kepada umat Islam. Sebagaimana firman-Nya : Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.(QS Al-Maidah : 82).

Identitas teroris yang disematkan kepada umat umat Islam merupakan refleksi permusuhan besar kelompok Yahudi. Kalau berbagai kasus pembunuhan yang dilakukan oleh umat Islam langsung akan dicap teroris, sementara perilaku yang sama ketika dilakukan oleh non-muslim tidak akan muncul istilah terorisme. Namun Paus Fransiskus menunjukkan pandangan yang lain bahwa terorisme bukan hanya terjadi pada Islam, namun juga ada di agama apapun termasuk Nasrani.

Surabaya, 2 Agustus 2016
*Penulis adalah dosen di STAI Ali bin Abi Thalib dan Direktur Pusat Kajian Islam dan Peradaban (PUSKIP) Surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here