•  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jakarta – Belakangan ini warga diresahkan dengan adanya isu penculikan anak dengan modus pelaku yang menyamar menjadi orang gila, pengemis, gelandangan dan sebagainya. Tidak sedikit warga yang termakan isu tersebut. Isu yang merebak itu membuat warga bertindak berlebihan. Tidak sedikit juga orang yang dicurigai sebagai pelaku penculikan dengan modus tersebut menjadi sasaran bulan-bulanan warga.

Bahkan di Sukabumi, Jawa Barat, seorang pria yang diduga gelandangan tewas dihajar massa karena dicurigai sebagai penculik. Sementara di Tangerang, seorang wanita yang diduga stress sempat dituding sebagai penculik, tapi beruntung tidak sampai menjadi korban pengeroyokan massa.

Menanggapi peristiwa tersebut, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengimbau kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri.

“Warga jangan main hakim sendiri, serahkan kepada aparat polisi apabila menemukan orang mencurigakan. Biar polisi yang memproses,” ujar Argo kepada wartawan, Senin (20/3/2017).

Warga juga diimbau agar tidak langsung menjustifikasi seseorang yang dicurigai sebagai penculik. Apabila menemukan orang yang gelagatnya mencurigakan, sebaiknya warga melapor ke RT setempat dan aparat polisi.

“Lapor ke RT/RW dan polisi kalau ada orang yang mencurigakan, jangan langsung memyimpulkan bahwa orang itu penculik. Iya kalau benar menculik, kalau tidak benar kan tidak boleh begitu juga. Tetap kedepankan azas praduga tak bersalah,” terang Argo.

Argo mengingatkan, tindakan pengeroyokan–terhadap orang yang dicuigai sebagai penculik tetapi belum tentu benar terbukti–dapat diproses secara hukum. “Yang dikeroyok belum tentu bersalah, makanya serahkan ke polisi, jangan main hakim sendiri. Kalau ternyata tidak benar, yang mengeroyok satu kampung bisa kena pidana,” tuturnya.

Argo juga mengimbau agar warga tidak menanggapi isu penculikan terlalu berlebihan. Tetapi seyogyanya agar masayarakat tetap waspadai dan mengawasi anak-anak.

“Waspada boleh, itu harus. Makanya orang tua diimbau untuk tetap waspada dan mengawasi anak-anaknya. Misalnya kalau sekolah diantar-jemput, kalau lagi main di lingkungan rumah diawasi agar bisa mencegah anak jadi korban penculikan,” paparnya.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •