Halodunia.net – Sejarah dan ilmuwan di seluruh Eropa saat ini tengah berkumpul dengan ahli parfum dan museum untuk sebuah proyek unik. Mereka bermaksud untuk menciptakan ulang aroma Eropa antara abad ke-16 dan awal abad ke-20.

Lalu, seperti apa aroma Eropa di masa lalu?

Seperti dikutip dariLive Science, Senin (23/11/2020) sebagai bagian dari proyek selama tiga tahun yang disebut Odeuropa ini, para ahli membuat kecerdasan buatan (artificial intelligent) untuk membantu jalannya proyek tersebut.

Kecerdasan buatan tersebut akan dilatih untuk memindai teks sejarah yang ditulis dalam tujuh bahasa yang berbeda untuk menemukan deskripsi mengenai bau.

Teknologi kecerdasan buatan ini juga akan dilatih untuk mendeteksi gambar objek dalam teks yang mungkin memiliki aromatik.

Para ilmuwan kemudian akan menggunakan informasi ini untuk membuat ensiklopedia daring tentang bau atau aroma Eropa di masa lalu yang mencakup arti dari aroma tertentu, serta menelusuri cerita di balik aroma dan tempat.

“Data ini akan menjadi arsip warisan aroma Eropa, yang memungkinkan generasi mendatang untuk mengakses dan belajar tentang masa lalu,” tulis Ingeer Leemans, profesor sejarah budaya di The Vrije Univesiteit Amsterdam.

Selanjutnya para peneliti bekerja sama dengan ahli kimia dan pembuat parfum untuk menciptakan kembali bau masa lalu.

Peneliti juga mencari cara untuk menampilkan bau tersebut di museum dan situs bersejarah lainnya.

“Bagi saya, tembakau benar-benar bau (aroma) sentral dalam sejarah dan warisan Eropa,” kata William Tullett, dosen sejarah di Universitas Anglia Ruskin di Cambridge, Inggris.

Aroma lain yang bisa dimasukkan adalah herbal seperti rosemary yang akan digunakan orang untuk melindungi dari wabah.

Namun, sebagaimana sejarah yang dipenuhi dengan bau yang menarik dan menyenangkan, Eropa juga diisi dengan bau yang tidak sedap dan persepsi tentang bau tak enak itu.

Misalnya, bau badan baru menjadi tabu di Eropa pada awal abad ke-20 ketika produksi industri membuat parfum dan sabun tersedia untuk kelas sosial yang lebih rendah.

Kotoran hewan juga diagungkan oleh para penulis sekitar tahun 1900 karena mengungkapkan kerinduannya pada pedesaan tetapi juga merupakan cara untuk mengekspresikan kekecewaan bagi kaum borjuis.

“Ini akan membuat kita lebih sadar tentang bagaimana kita berhubungan dengan bau hari ini dan bau berbeda dihargai di masa lalu,” terang Caro Verbeek, sejarawan wewangian di The Vrije Universiteit Amsterdam

Dengan teknologi saat ini, menurut Verbeek hampir setiap aroma dapat disintesis, termasuk aroma Eropa di masa lalu. Tetapi bagian yang lebih sulit dari proyek ini adalah menemukan deskripsi wewangian, karena orang tidak selalu membicarakan atau menulis tentang bau.

Aroma memang memainkan peran sentral dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan bertindak sebagai mesin waktu untuk memicu ingatan yang sudah lama terlupakan. Aroma juga kunci dalam menceritakan kisah orang lain.

“Aroma memberi kita akses ke masa lalu (Eropa) dengan cara yang jauh lebih intim, langsung dan emosional daripada bahasa dan gambar,” tambah Verbeek.

Penulis: Kontributor Sains, Monika Novena Editor: Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas