Ibu Yang Alami Depresi Cenderung Menjadi Orang Tua Yang Kasar Dan Terlalu Reaktif Kepada Anak-Anaknya

0
701

Pernah nggak, Bun, melihat orang tua yang kasar dan sangat reaktif pada anaknya? Atau mungkin kita sendiri sering melakukannya? Jika iya, mungkin kita perlu merenung sejenak, apakah kita sedang mengalami depresi.

Ya, ibu yang mengalami depresi cenderung menjadi orang tua yang kasar dan terlalu reaktif kepada anak-anaknya. Nah, hal tersebut bisa membuat anak menghadapi risiko berperilaku negatif di masa depannya.

“Studi kami menunjukkan gejala depresi ringan pun dapat mengganggu pola asuh,” jelas Lindsay Taraban, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Pittsburgh, yang memimpin penelitian tersebut.

Sebuah studi terhadap keluarga angkat juga melihat apakah gejala depresi pada ayah angkat juga terkait dengan masalah pengasuhan dan perilaku terlalu reaktif pada anak-anak. Studi ini juga meneliti bagaimana dukungan sosial dapat mempengaruhi pola asuh.

Ilustrasi depresi/
Penelitian dilakukan para periset di University of Pittsburgh, University of Oregon, University of California Riverside, Universitas George Washington, Universitas Yale, dan The Pennsylvania State University. Hasil penelitian ini muncul dalam jurnal Child Development.

Bagaimana hasil penelitiannya? Gejala depresi pada ayah angkat berhubungan dengan pola asuh yang kasar dan terlalu reaktif. Tapi kabar baiknya, Bun, hal itu tidak berisiko menimbulkan masalah perilaku anak-anak di kemudian hari.

Ada catatan penting juga nih, Bun. Jadi kalau ayah dan bunda mengalami depresi tapi puas dengan dukungan sosial di luar pernikahannya, maka mereka tidak akan menunjukkan kebiasaan mengasuh anak yang kasar dan terlalu reaktif.

“Bagi yang memiliki pasangan depresi, mungkin penting untuk mempertahankan hubungan sosial baik dengan teman, keluarga besar, dan orang lain di luar pernikahan. Melalui hubungan semacam itu, mereka mungkin bisa menerima saran dan empati yang meningkatkan kemampuan mereka dalam mendukung pasangannya. Ini secara positif membentuk perilaku dalam pola asuh,” terang Lindsay seperti dilansir MedicalExpress.

Periset mengamati 519 keluarga angkat yang mana anak-anaknya diadopsi tak lama setelah kelahirannya. Penelitian dilakukan untuk membatasi kemungkinan gen berkontribusi pada hubungannya gejala depresi orang tua dan anak-anak. Ini juga untuk mengisolasi lebih banyak dampak lingkungan dari peningkatan orang tua yang depresi.

Ilustrasi depresi/

Responden penelitian ini merupakan keluarga berpenghasilan menengah ke atas, terutama orang Kaukasia, dan berpendidikan tinggi. Penilaian dilakukan saat anak berusia 9, 18, dan 27 bulan. Para periset mengukur gejala depresi dan kepuasan orang tua dengan jaringan dukungan sosial mereka saat anak berusia 9 bulan.

Peneliti juga melihat laporan mereka mengenai kebiasaan mengasuh anak yang kasar dan terlalu reaktif, misalnya menampilkan kemarahan dan kekejaman dalam menanggapi bayi mereka ketika berusia 18 bulan. Diketahui pula orang tua melaporkan masalah emosional dan perilaku ketika anak-anaknya berusia 27 bulan.

Studi ini juga mempertimbangkan dampak agresi ibu hamil dan masalah kesehatan mental terhadap perilaku anak-anak, keterbukaan orang tua angkat tentang adopsi, komplikasi kebidanan, temperamen dan gender anak-anak, pendapatan keluarga, juga usia orang tua.

Diketahui pula gejala depresi pada ayah dan ibu saat anak berusia 9 bulan terkait dengan pola asuh yang kasar dan terlalu reaktif saat anak berusia 18 bulan. Namun, hanya gejala depresi pada ibu yang berhubungan dengan masalah perilakunya saat anak berusia 27 bulan.

Penulis menduga hal ini mungkin terjadi karena ayah biasanya lebih sedikit waktunya berhubungan langsung dengan anak-anak mereka.

Ilustrasi depresi/
Sebelumnya ada penelitian dari Inggris yang menyebutkan depresi yang dialami ayah bisa membuat anak remajanya menunjukkan gejala depresi. Sayangnya, para ayah lebih jarang mendapat pengobatan sehingga risikonya dampaknya pada anak lebih besar.

“Baik ayah maupun ibu sama-sama berisiko mengalami depresi. Namun kaum perempuan lebih mau pergi mencari bantuan profesional dan melakukan terapi atau minum obat untuk menangani kondisinya, sementara laki-laki jarang,” ungkap dr Gemma Lewis dari University College London, dilansir Reuters.

Sumber: mahasiswa pascasarjana di University of Pittsburgh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here