Halo Dunia Papua : Mama-Mama Perajut Noken Papua Kini Lirik Jualan Online

0
123

 Tangan dan paha Christina Degey (25) memerah. Seutas akar dari pohon kulit Manduam terus digulung dengan tangannya di pahanya. Terus-terusan kulit Pohon Manduam itu digulung hingga menjadi benang. Benang itu kemudian dianyam menjadi noken, sebuah tas asli masyarakat Papua.

Tak mudah membuat noken. Untuk noken ukuran kecil, bisa memakan waktu hingga dua mingguan. Apalagi, membuat noken besar yang biasa digunakan mama asli Papua untuk mengangkut hasil kebunnya ke pasar. Waktunya bisa berbulan-bulan.

Proses pembuatan noken yang paling memakan waktu adalah saat membuat akar pohon atau kulit kayu menjadi sebuah benang. Dibutuhkan waktu hingga berminggu-minggu lamanya. Sampai sekarang, alat pemintal kulit kayu atau akar pohon untuk dijadikan benang belum ada.

“Sa (saya) pu (punya) tangan dan paha su (sudah) biasa. Sakit dan pedih awalnya, tapi sekarang sudah biasa,” kata Mama Christina, ketika ditemui belum lama ini di Gedung Dewan Kesenian Papua.

Demi mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, Mama Christina melakukan pekerjaan itu seluruhnya. Ia memintal akar atau kulit pohon menjadi benang, lalu merajut benang menjadi noken, dan menjual nokennya di pasar atau trotoar jalan yang ada di Kota Jayapura.

Saat ini, bukan hanya noken yang dibuat dari kulit kayu atau akar pohon, tapi sudah berkembang hingga baju, sepatu, bahkan aksesoris lainnya. Harga jualnya pun beragam, mulai dari harga Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah.

Mama Christina bercerita, saat ini dirinya juga sedang mengerjakan pesanan sepatu kulit kayu dari salah satu kabupaten di Pegunungan Tengah Papua. Harga sepatu dari akar pohon itu dibanderol dengan harga Rp 1,5 juta.

“Membuat noken atau sepatu dan barang lainnya dari akar pohon atau kulit kayu harus perlahan dan sabar, butuh konsentrasi,” kata ibu dari dua orang putri ini.

Noken Menuju Penjualan Online

Adalah Komunitas Noken Ania. Ania dalam bahasa Suku Mee adalah jati diri. Artinya, noken sebagai jati diri masyarakat Papua.

Komunitas Noken Ania beranggotakan mama asli Papua, pengrajut noken Papua. Jumlahnya berkisar 200-an orang, mulai dari daerah Angkasa hingga ke Waena, Abepura, Kota Jayapura.

Komunitas Noken Ania selalu eksis dalam setiap pameran dan di media sosial. Dengan begitu, Komunitas Noken Ania selalu mendapatkan tempat untuk mempromosikan noken buatannya dari sejumlah instansi.

Salah satunya adalah Kantor Pos yang melirik hasil rajutan noken Ania untuk dipasarkan secara online. Apalagi, saat ini belanja daring sedang menjamur.

“Kami pernah diberikan pemahaman tentang apa itu belanja online dan cara memasarkan produk secara online. Tentu saja kami tertarik,” kata Ketua Komunitas Noken Ania, Merry Dogopia (45) , Kamis, 16 November 2017.

Sampai saat ini, Komunitas Noken Ania terus belajar untuk memasarkan produknya secara online. Tapi, bukan hanya lewat Kantor Pos.

Mama Merry menceritakan, untuk memasarkan produk hasil rajutan anggotanya, komunitas ini juga memasarkan lewat Facebook dengan nama Noken Ania ataupun lewat Facebook masing-masing anggotanya.

“Cukup mendapat respons baik dari hasil pemasaran lewat online. Tapi kami terus belajar dan masih perlu pendampingan,” kata Merry.

Salah satu anggota Komunitas Noken Ania, Sarah Pakage (58), menceritakan ia dan 20 orang mama pengrajut noken Papua pernah dibekali pemasaran online oleh salah satu bank milik BUMN.

Hasilnya, ia lebih senang menjual barang dagangannya secara online karena lebih menghemat waktu dan pemasarannya tak terbatas.

Bank Indonesia (BI) perwakilan Provinsi Papua yang selama ini membina pemasaran hasil kreatif mama penjual noken, bakalan membuatkan honai kreatif bagi komunitas ini

“Kami juga mengarahkan komunitas ini untuk menjual online dagangannya dengan bergabung lewat aplikasi belanja online lainnya,” kata Manager Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UMKM, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Yon Widiyono.

2 dari 3 halaman

Gerakan Nontunai Papua

Memasarkan hasil rajutan noken melalui online bukan hal mudah bagi mama perajut noken Papua. Namun, memasarkan dagangan secara online sama dengan membantu pemerintah dalam menggiatkan gerakan nontunai. Sebab, transaksi belanja online selalu dilakukan dengan pembayaran nontunai melalui rekening bank.

Karena literasi perbankan nontunai di Papua masih rendah, Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua konsisten mengedukasi nontunai kepada masyarakat setempat.

Manajer Fungsi Asesmen Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Arya Jodilistyo menyebutkan data secara nasional gerakan nontunai di Indonesia baru mencapai 10-12 persen, dan gerakan nontunai di Papua jumlahnya lebih kecil dari itu.

Maka itu, Bank Indonesia perwakilan Papua menyasar generasi muda yang melek teknologi untuk mendorong penetrasi keuangan elektronik di Papua. Di sisi lain, pemerintah daerah setempat juga mempopulerkan gerakan itu lewat e-Government.  Salah satunya Pemkot Jayapura.

“Pemanfaatan uang eletronik sudah digunakan, walaupun belum seragam,” kata Jodi.

Pada masyarakat ekonomi menengah ke bawah, penyaluran bansos telah dilakukan dengan menggunakan non tunai. Justru penyaluran bansos, “memaksa” masyarakat untuk mengenal uang elektronik dan “memaksa” warga untuk memiliki akses perbankan.

“Ibaratnya, jika seseorang itu mau terima uang bantuan, maka harus memiliki nomor rekening,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here