Bisa dikatakan usia senjata hampir sama dengan munculnya peradaban manusia. Senjata diperkirakan sejak awal-dengan bentuk paling tradisional (primitif)-sudah dirancang oleh manusia untuk memenuhi atau melengkapi kebutuhan hidupnya.

“Saya pikir, sejak manusia ada, yang namanya senjata tradisional sudah ada,” kata Sosiolog Musni Umar, saat diwawancarai Kompas.com, di Jakarta, September 2017.

Oleh manusia, senjata digunakan secara multifungsi. Zaman dahulu, masyarakat menggunakannya seperti untuk berburu hewan yang dagingnya bisa dimakan. Atau, lanjut Musni, manusia menggunakan senjata untuk melawan ataupun mempertahankan diri dari musuh.

Senjata tradisional, secara dominan dikuasai laki-laki. Hal itu, kata dia, tak lepas dari budaya masyarakat dahulu yang menganut paham paternalistik, yang mana artinya menjadikan sosok laki-laki sebagai ayah, pemimpin, pencari nafkah, yang memberi perlindungan, dan lainnya.

Dari pemahaman itulah, Musni menyebut menguasai senjata menjadi semacam keharusan bagi lelaki. “Ya itu paham saja. Jadi kan budaya itu sebenarnya kebiasaan-kebiasaan masyarakat, kemudian akhirnya menjadi budaya,” ujarnya.

Beragam

Sosiolog Musni Umar yang juga Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Senjata tradisional Indonesia jumlahnya sangat banyak dan beragam. Nama dan bentuknya di setiap daerah berbeda-beda. Di Pulau Jawa misalnya, lanjut Musni, memiliki senjata tradisional yang dikenal dengan keris. Pada masa lalu, keris pernah berfungsi sebagai senjata pada peperangan.

Sementara di Aceh, senjata tradisional yang dikenal yakni rencong milik Suku Aceh. Rencong dianggap simbol identitas diri, keberanian, dan ketangguhan Suku Aceh. Ia mengatakan, karena sejarah dan kepopulerannya, banyak yang menyebut Aceh dengan nama lain Tanah Rencong.

“Dijadikan nama sebagai Tanah Rencong, dan itu kemudian dianggap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang melekat dengan masyarakat itu sendiri, kemudian memberi semangat kekuatan pada masyarakat,” ujar Musni.

Daerah tertentu lain, juga menggunakan senjata tradisional berupa tombak. “Banyak sekali senjata tradisional ini yang dimiliki atau dibuat oleh masyarakat dari waktu ke waktu,” sebutnya.

Seiring perkembangan zaman, lanjut Musni, manfaat senjata tradisional mulai bergeser karena kemunculan senjata modern. Kala dahulu orang menggunakan senjata tradisional sesuai fungsinya, sekarang sejumlah orang menjadikan senjata tradisional sebagai benda yang dikoleksi. “Sekarang ini dimanfaatkan justru untuk menguatkan budaya-budaya,” ucapnya.

Dalam hal mengoleksi, ada yang melakukannya karena memang menyukai nilai historisnya. Ada juga yang menyimpan kareana kepercayaan pada sisi mistis yang diyakini melekat pada senjata tradisional tersebut.

Kujang koleksi Museum Pusaka TMII

Misalnya, dalam hal mistis, senjata tradisional yang disimpan ada yang dipercaya sebagian masyarakat dapat memberi keuntungan, keberkahan, perlindungan, ketenangan, termasuk memberi kesehatan.

“Macam-macam. Ada yang mengatakan ada ketenangan yang mereka peroleh, kemudian mereka merasa ada yang melindungi mereka, ada kepercayaan diri,” ujar Musni.

Yang lainnya ada yang menganggap senjata tradisional sebagai sesuatu yang punya kesakralan. Sehingga ada yang memperlakukan khusus senjata tradisional yang dimiliki, seperti merawat dengan cara memandikannya. Keyakinan senjata tradisional memiliki kesakralan sebenarnya menurut dia sudah ada sejak zaman Hidhu-Budha di Indonesia, yang cenderung animisme. “Itu menurut saya berakar dari kepercayaan Hidhu-Budha,” ujar dia.

Eksistensi di Indonesia

Meski senjata tradisional di Indonesia jumlahnya banyak, namun, hanya sedikit yang dinilainya benar-benar mendapat perhatian. “Kalau menurut saya memang bangsa ini cenderung tidak menghargai kearifan masa lalu,” ujar Musni.

Modernisasi menjadi salah satu pengaruh pada eksistensi senjata tradisional. Di masa lalu, lanjut dia, dalam membangun negara, diperkenalkanlah yang namanya modernisasi. “Modernisasi itu membuat kita lupa tentang bangsa ini sebenarnya bisa dimodernisir dengan mengambil pelajaran dari masa lalu yang dilakukan bangsa kita,” ujar Musni.

Badik Sulawesi koleksi Museum Pusaka TMII

Modernisasi yang dilakukan justru meniru budaya barat. Pada akhirnya orang menganggap budaya lama, seperti halnya senjata tradisional, sebagai sesuatu yang kuno dan tidak bermanfaat.

Padahal, kata Musni, masyarakat tradisional dahulu mampu memproduksi senjata meski dengan keterbatasan. Selain itu, mereka juga memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Cara masyarakat dahulu menciptakan senjata ini harusnya bisa diterjemahkan sekarang bahwa Indonesia mesti mandiri.

“Jangan hanya melihat ini barang kunonya, tetapi filosofi dibalik itu. Dengan segala keterbatasan mereka menciptakan sesuatu, dan sebenarnya itulah yang kita harus warisi, bagaimana bangsa kita, masyarakat kita, itu (bisa) menjadi bangsa produsen dalam segala hal,” ujar Musni.

Rencong

Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta itu melanjutkan, bambu runcing juga pernah menjadi senjata tradisional Indonesia, yakni ketika masa perjuangan melawan penjajahan asing.

“Sesuatu benda itu bisa menginspirasi kita, seperti yang saya katakan tadi. Dengan memiliki senjata tradisional itu, kita (bisa) membangkitkan semangat heroisme kita. Jadi perjuangan-perjuangan kita untuk mempertahankan negara ini, walaupun hanya dengan bambu runcing saja itu merupakan inspirasi,” ujar Musni.

Untuk menjaga eksistensi senjata tradisional, pemerintah disarankan melakukan beberapa cara. Misalnya, melakukan edukasi di lembaga pendidikan dengan intensif. Pemerintah juga disarankan menuliskan referensi yang akurat mengenai senjata tradisional di Tanah Air.

“(Pemerintah bisa) memberi makna baru senjata tradisional itu, tidak hanya melihat senjatanya saja, tapi bagaimana kehebatan orang-orang dahulu yang bisa memproduksi senjata untuk mendapatkan kehidupan, membela diri dan sebagainya,” ujar dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here