•  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB-PRSI) melaksanakan rapat kerja nasional pertamanya. Empat event terbesar menjadi titik fokusnya.

Bertempat di Hotel Four Point, Jakarta Pusat, Sabtu (18/2/2017), kepengurusan PRSI yang dipimon oleh Anindya Novyan Bakrie membuat blue print sebagai panduan untuk empat tahun ke depan. Terlebih dalam rentan waktu itu pula, Anindya dkk. juga telah ditunggu empat multievent besar, seperti SEA Games 2017 Kuala Lumpur, Asian Games 2018 Jakarta – Palembang, SEA Games 2019 Filipina, dan Olimpiade 2020 Tokyo.

“Rakernas ini memang agenda tahunan tetapi kali ini sangat signifikan karena di tahun ini sudah ada sejumlah agenda yang harus dibuatkan blueprint-nya. Karena bicara aquatik itu cakupannya banyak ada loncat indah, renang indah, polo air, renang, dan open water swimming,” kata Anindya, usai rakernas.

Untuk itu, kata putra sulung dari pengusaha Aburizal Bakrie dan Tatty Bakrie ini, pencapaian prestasi di ajang-ajang tersebut sangat penting. Terutama dan paling terdekat adalah SEA Games Kuala Lumpur yang akan digelar pada 19-31 Agustus 2017 dan Asian Games 2018 , di mana Indonesia menjadi tuan rumahnya.

Meski di SEA Games, belum berani sesumbar angka medali emas yang ingin mereka rebut. Termasuk di Asian Games. Mereka hanya berpatok lebih baik dari sebelumnya.

“Memang tidak mudah dan mesti bekerja keras, tetapi dengan motivasi dan sejumlah terobosan yang kita lakukan saya yakin kita bisa meraih medali di ajang yang bisa dibilang sudah 25 tahun paceklik medali di Asian Games. Sementara SEA Games yang hanya meraih satu medali emas padaa dua tahun lalu,” kata Anindya.

Adapun sejumlah terobosan yang dibuat Anindya memang cukup jor-joran. Paling tidak masing-masing sub cabor mendapatkan sokongan bantuan pelatih asing yang terjun langsung dalam setiap latihan.

Sebut saja, polo air putra yang kini dilatih Milos Sakovic, pelatih asing asal Serbia. Sementara renang indah asal Rusia, Anna Nasekina, kemudian renang dibantu pelatih asal Prancis David Armandoni, serta loncat indah yang saat ini tengah penjajakan menggunakan pelatih China.

Sementara hal lain yang menjadi fokus Anindya pada rakernas yang dihadiri 26 pengprov dari 30 pengprov itu adalah terkait jangka menengah lima tahun berikutnya. Di mana kaderisasi adalah hal yang tak kalah penting.

“Kami bicara programnya, mulai summer camp luar negeri, bapak angkat, tapi yang digarisbawahi adalah edukasi juga menjadi bagian dari kaderisasi. Kami ingin atlet ini juga bisa berhasi di bidang akademis,” ungkap dia.

“Yang ketiga, kami membahas ada program kemitraan, kemasyarakatan musyawarah agar renang itu bisa menjadi bagian dari gaya hidup orang Indonesia. Karena kita negara kepulauan, ada 250 juta orang, wajar kalau renang itu bisa melobi sebagai kurikulum dan bisa berkerjasama dengan pariwisata untuk supaya open water swimming itu bisa dijadikan bagian pariwisata,” tambahnya.

“Tidak harus menghasilkan medali emas tetapi paling tidak animo masyarakat terhadap renang bisa naik.”

Anindya berkaca pada olahraga lari yang kini di kalangan masyarakat dalam 10 tahun terakhir. “Lari 5 K, 10 K bisa naik daun. Walaupun tidak ada masyarakat Indonesia yang juara marahon. Nah, ini kami tidak bicara juara, tetapi jika renang bisa menjadi bagian daripada gaya hidup maka saya rasa akan membuat animo semakin besar lagi,” ujarnya.

“Dan kita mesti ingat jika bicara 10 tahun ke depan, bukan tidak mungkin menggunakan figur Asia bisa memenangi kelas dunia. Seorang Joseph Schooling menjadi inspirasi kita semua. Dia datang dari Singapura dan sekolah di Amerika dan menjadi juara di Asia dan dunia,” pungkas dia.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •