Squash Butuhkan Lapangan Khusus Nomor Ganda Dalam Rangka Persiapan Tujuan Asian Games 2018

0
15044

Cabang squash membutuhkan lapangan khusus nomor ganda dalam rangka persiapan menuju Asian Games 2018. Cabang ini juga butuh lebih banyak uji coba.

Permintaan itu disampaikan atlet squash Ade Furqon di sela-sela kunjungan Menpora Imam Nahrawi ke pemusatan latihan squash di Siliwangi Squash Center, Bandung, Selasa (16/1/2018).

Menurut Ade, masih kalahnya Indonesia dari negara-negara lain di Asia Tenggara karena fasilitas yang ada tidak sesuai standar.

Di SEA Games 2015, squash Indonesia meraih dua perak dan satu perunggu. Sementara di SEA Games 2017 menurun menjadi 1 perak dan 3 perunggu. “Kami hanya bisa mempertahankan medali saja pak. Kami sudah berusaha maksimal, tetapi kembali lagi kendalanya adalah sarana dan prasarananya yang tidak ada,” ujarnya.

Manajer tim pelatnas squash, Bayu Deya Geovani, mengatakan, sebenarnya di Jakarta ada lapangan squash untuk double. Letaknya dekat kawasan Situ Gintung namun tidak standar Indonesia. Terakhir yang paling terbaik adalah di GBK tapi dibongkar untuk renovasi Asian Games.

“Tapi kami, Persatuan Squash Indonesia (PSI), dijanjikan mendapat tempat di Hall D pintu 1 SUGBK tapi itu belum dibangun karena 5 Januari kemarin baru mulai lelang karena itu kami pelatnasnya pindah ke Bandung ini,” kata Bayu.

Bayu sendiri berharap pembangunan bisa segera dilakukan agar timnya bisa menggunakannya. Apalagi Asian Games menyisakan kurang dari tujuh bulan.

“Katanya pembangunan akan dimulai Februari ini dan target selesai Juni mendatang. Jika sesuai jadwal maka kami masih punya waktu dua bulan untuk memaksimalkan waktu yang tersisa dan adaptasi dengan lapangan,” tambahnya.

Selain itu, menurut rencana akan ada empat lapangan yang akan dibangun dengan tambahan satu lapangan dari Panitia Penyelenggara Asian Games bersifat temporer. Dengan jumlah itu, PSI bisa menggelar pertandingan maksimal 12 hari pada saat Asian Games nanti.

Tak hanya mengeluhkan soal sarana dan prasarana, atlet-atlet squash juga berharap bisa lebih banyak mendapat jatah uji coba pertandingan.

Hal ini penting mengingat di negara-negara lain saja bisa 15 sampai 20 pertandingan diikuti dalam setahun. Sementara squash Indonesia hanya mendapat jatah satu sampai dua kali uji coba dan training camp ke Korea Selatan pada Maret mendatang dan Selandia Baru dengan biaya Rp 1 miliar. Adapun jumlah atlet yang diakomodir pemerintah hanya 10 atlet dari 20 yang diajukan sebelumnya dalam rangka Asian Games 2018.

Sumber: DetikSport

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here