7 Perbedaan Depresi Dengan Sedih Biasa yang Tak Boleh Diremehkan

0
6033

Halodunia.net – Banyak orang yang menganggap depresi sama saja dengan sedih biasa sehingga dengan mudah meremehkan depresi. Padahal depresi dan sedih biasa adalah dua hal yang berbeda. Gejala depresi juga mengalami rasa sedih dan muram, namun lebih berat dibandingkan dengan depresi. Orang yang tidak menderita depresi, ketika merasa sedih, keadaannya akan kembali ke kondisi normal setelah beberapa waktu.

Depresi merupakan gangguan mental yang serius dan bisa menyerang siapa saja, namun depresi bukan merupakan kelemahan kepribadian. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai perbedaan depresi dan rasa sedih biasa, simak penjelasan di bawah ini.

1. Gejala depresi yang lebih berat dibandingkan rasa sedih

Memang depresi juga mengalami rasa sedih, bedanya gejala yang dialami lebih berat. Berikut ini gejala yang mutlak muncul sebelum seseorang didiagnosis dengan depresi:

  • kehilangan motivasi,
  • sulit berpikir positif,
  • perasaan sedih mendalam dan konstan,
  • gangguan konsenstrasi,
  • pikiran-pikiran untuk menyakiti diri sendiri,
  • tidak nafsu makan atau maunya makan melulu,
  • berat badan naik atau turun,
  • penurunan libido,
  • tidak bisa tidur,
  • merasa bersalah,
  • ide untuk bunuh diri sampai percobaan bunuh diri.

2. Depresi tidak bisa dinilai oleh orang awam

Meski terlihat gejala-gejala di atas, jangan sembarangan menyatakan bahwa seseorang mengalami depresi. Depresi hanya bisa dinyatakan oleh psikolog klinis atau dokter melalui pengukuran depresi.

3. Perbedaan rasa sedih dan depresi dalam kegiatan sehari-hari

Seorang psikolog klinis, Dr. Paula Bloom, menjelaskan bahwa rasa sedih bisa hilang seiring jalannya waktu, depresi berlangsung mengganggu aktivitas sehari-hari secara konsisten selama minimal 2 minggu, bahkan bisa berlangsung seumur hidup dan memberi efek negatif pada fisik jika tidak ditangani dengan tepat.

4. Penyebab depresi, mulai rasa sedih hingga genetik

Depresi berawal dari rasa sedih yang dirasakan karena menghadapi beragam alasan, seperti trauma, rendah diri, hingga konsumsi obat terlarang dan atau minuman keras. Trauma dapat disebabkan oleh perubahan besar dalam hidup seperti kehilangan pekerjaan, melahirkan anak pertama, ataupun kehilangan orang yang dikasihi.

Pemicu depresi juga dapat ditelusuri dari riwayat keluarga yang juga pernah mengidap depresi, gangguan mental, bipolar dan penyakit kronis seperti kanker. Depresi bahkan juga dapat dipicu dari konsumsi obat tertentu seperti obat untuk menangani tekanan darah tinggi ataupun obat tidur.

5. Depresi adalah penyakit serius, sama seperti penyakit fisik

Depresi bukanlah penyakit yang diada-adakan dan “hanya” di pikiran saja. Berbagai riset di bidang neurosains telah menunjukkan bahwa depresi itu sama nyatanya dengan penyakit fisik. Gangguan mental ini juga bisa dibuktikan seperti penyakit fisik lainnya, misalnya patah kaki yang bisa dibuktikan dengan rontgen.

6. Cara mengukur dan membuktikan adanya depresi

Ada 3 hal yang bisa diukur untuk membuktikan adanya depresi pada diri seseorang: aktivitas otak, ketidakseimbangan senyawa kimia di otak, volume hippocampus yang berkurang. Ketiga hal tersebut yang mendasari bahwa stres kronis pada orang depresi dapat berdampak buruk hingga mengubah struktur otak seseorang. Pengukuran hanya bisa dilakukan oleh ahlinya.

7. Depresi erat hubungannya dengan bipolar

National Institute of Mental Health mengatakan bahwa rata-rata orang dengan penyakit mental baru mencari bantuan profesional setelah 10 tahun menderita. Padahal nyatanya, jika tidak diobati secara tuntas dan lebih lanjut, efek yang ditimbulkan cukup besar. Depresi dapat berkembang menjadi bipolar hingga adanya pemikiran dan percobaan untuk bunuh diri.

Mulai sekarang, jangan lagi menganggap depresi adalah hal yang remeh, ya. Bangun rasa pedulimu terhadap orang di sekitarmu. Jadilah pendengar yang baik bagi mereka. Apabila merasa tidak sanggup memberi solusi, arahkan untuk melakukan konsultasi kepada psikolog atau psikiater.

Juga dengan dirimu. Jangan buat jiwamu terkurung dalam pikiranmu sendiri. Jadilah orang yang terbuka dan datangi psikolog atau psikiater jika merasa malu bercerita kepada orang di sekitarmu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here