•  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pada malam jahanam 30 September itu, sesungguhnya ada satu nama dicoret dalam daftar perwira tinggi Angkatan Darat yang hendak diculik. Sang jenderal sedang menjabat sebagai menteri negara dalam kabinet Dwikora. Ia dikenal sebagai perwira intel andalan dari jenderal yang pangkatnya paling tinggi di antara orang-orang yang akan diculik.

Di masa itu, Sukarno tiba-tiba memberi perintah pada sang menteri untuk berangkat ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT), memenuhi undangan peringatan kelahiran negeri tersebut. Maka, selamatlah Brigadir Jenderal Ahmad Sukendro dari penculikan dan pembunuhan nahas.

Sebelum ditarik menjadi menteri, Ahmad Sukendro adalah orang kepercayaan Jenderal Abdul Haris Nasution. Nama terakhir ini dikenal kerap berseberangan dengan Sukarno selaku presiden dan Pemimpin Besar Revolusi. Di tahun 1956, Sukendro menjadi mata-mata Nasution yang turut mengintai gerakan kelompok Lubis—dikenal sebagai kelompok anti-Nasution di Angkatan Darat.

Namun, tak selamanya Nasution bisa melindungi Sukendro. Setelah dianggap terlibat dalam penyelundupan pada 1959 di Tanjung Priok—dibongkar Jaksa Agung Gatot Tarunamihardja—Sukendro dicopot dan dikirim ke pelatihan di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung.

Di Jakarta, keterlibatan Sukendro dalam skandal penyelundupan membikin dirinya dan sejumlah perwira senior lain dipermalukan. “Kegiatan penyelundupan yang dilakukan kelompok Mabes AD dikendalikan oleh Sukendro dan Kolonel Ibnu Sutowo,” tulis David Jenkins dalam Soeharto & Barisan Jenderal ORBA : Rezim Militer Indonesia 1975-1983 (2010).

Arsip CIA bertajuk “Central Intelligence Agency 11 September 1959” pun mencatat kasus Sukendro. “Jenderal Nasution, yang merangkap jabatan Kepala Staf dan Menteri Pertahanan, telah berusaha menentang Jaksa Agung Gatot Tarunamihardja, menyelidiki kembali perdagangan (gelap) menyimpang yang melibatkan kepala intelijen tentara Letnan Kolonel Sukendro.”

Kasus yang mencuat sejak akhir Februari 1959 ini oleh Nasution dianggap sudah ditutup. Namun, pada 9 September, sang Jaksa Agung balik dilaporkan atas tuduhan palsu.

Mengenai kedekatan Sukendro dengan CIA, menurut John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal (2007), Sukendro pernah belajar di Universitas Pittsburgh dan menjalin kontak lebih dekat dengan para pejabat AS dan CIA.

Ketika karirnya suram di akhir dekade 1950an itu, Sukendro baru berusia sekitar 36 tahun. Ia lahir di Banyumas, 16 November 1923. Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (1988) Sukendro terlempar dari tempat prestisius bernama Staf Umum Angkatan Darat di Jakarta, saat ia berpangkat kolonel.

Meski bukan orang Sunda, dia kemudian bergabung dalam Divisi Siliwangi dengan Nasution sebagai panglima. Sebagai pemimpin dan politisi militer, Nasution tentu mengenali kemampuannya. Sukendro menjadi perwira intel dalam bagi kepemimpinan Nasution di Angkatan Darat pada tahun 1950an.

Di tahun-tahun berikutnya, Sukendro giat mendukung Liga Demokrasi yang menentang rencana Sukarno mengendalikan parlemen. Liga ini segera diberangus Sukarno dan Sukendro dibuang, dijadikan atase pertahanan ke luar negeri. Selama dua tahun, dia berada dalam posisi orang buangan yang dipakainya untuk belajar di Universitas Pittsburgh.

Hidup dan karir Sukendro mulai terang kembali akhir 1963. Setelah merasa masuk ‘kotak’ dan karirnya nampak suram awal usia kepala empat, ia dipanggil pulang. Menurut John Roosa, Ahmad Yani-lah—saat itu pemimpin tertinggi Angkatan Darat—yang memanggilnya pulang.

Oleh Yani, Sukendri diberi kepercayaan untuk merancang komplotan tingkat tinggi. Masih menurut John Roosa, Yani mempercayai Sukendro karena sekitar Juli hingga September 1960, Sukendro telah menghajar dan mempersulit PKI.

Apa yang terjadi kemudian, Sukendro akhirnya malah dekat dengan Sukarno. Tak tanggung-tanggung, sang presiden mendapuknya menjadi menteri negara. Menurut Harsya Bachtiar, dia diperbantukan dalam Presidium Kabinet Dwikora sejak 27 Agustus 1964 hingga 21 Februari 1966.

Sukendro sadar bahwa “Sukarno mungkin menghendaki dirinya dalam kabinet untuk mengimbangi tokoh PKI Njoto yang beberapa bulan sebelumnya diangkat sebagai satu diantara tiga menteri negara yang diperbantukan dalam presidium,” tulis David Jenkins. Jenkins juga menyebut tugas khusus Sukendro yang lain: mengawasi gerak Pangkostrad Soeharto.

“Untuk menangkap pencuri, haruslah digunakan otak pencuri juga,” tulis Jenkins untuk mengibaratkan cara Sukarno mengawasi orang macam Soeharto.

Baik Soeharto maupun Sukendro sama-sama pernah bermasalah dalam kasus penyelundupan pada 1959. Di malam jahanam 30 September 1965 (G30S) pun keduanya sama-sama tak menjadi korban. Malam itu, Soeharto ada di Jakarta, antara Rumah Sakit Gatot Subroto dan rumahnya di Cendana, sedangkan Sukendro di Peking, Tiongkok.

Ahmad Sukendro Mencium Gelagat Buruk Supersemar

Meski selamat dari penculikan, menurut Jenkins, Sukendro tak bisa berbuat banyak seperti halnya perwira menengah bawahan Mayor Jenderal Soeharto. Bahkan Nasution, meski selamat juga tak bisa berbuat banyak. Di masa-masa yang kacau, pada 24 Februari hingga 28 Maret 1966, Sukendro menjabat posisi ganda: menteri negara sekaligus menteri transmigrasi dan koperasi.

Di masa-masa turbulensi politik, Sukendro berada di Istana Merdeka ketika Supersemar diberikan kepada Soeharto. Dalam buku AM Hanafi Menggugat: Kudeta Jend. Soeharto dari Gestapu ke Supersemar (1998), AM Hanafi yang ketika itu Duta Besar Indonesia untuk Kuba dan berteman dengan Sukendro, juga sedang berada di sana.

Pada 11 Maret 1966 itu, keduanya melihat presiden diikuti para wakil perdana menteri (waperdam) tergopoh-gopoh menuju Bogor. Istana mulai tidak aman. Ada pasukan tak dikenal di luar, yang ternyata pasukan Kostrad yang ditempatkan Kemal Idris. Sukendro, yang merasa ada gelagat tidak baik bagi presiden, kemudian meminta AM Hanafi untuk mengejar Presiden dan menempelnya di mana pun ia berada.

“Jangan tinggalkan bapak [Sukarno] sendirian,” kata Sukendro pada Hanafi. Meski sudah berusaha, Hanafi gagal. Dia tidak dapat tempat duduk untuk ikut di dalam helikopter presiden. Petang harinya, barisan jenderal pendukung Soeharto sudah mengantongi Supersemar yang bukan main saktinya, sehingga Soeharto akhirnya menjadi presiden.

AM Hanafi hanya bisa menyesal. Setelah 11 Maret, Hanafi kembali ke posnya di Havana, Kuba. Seperti Sukendro, karir Hanafi pun suram. Mereka terlempar dari pusat kekuasaan dan tak pernah kembali.

“Tidak ada orang intelijen yang lebih hebat daripada dia. Karena itu saya selalu mencurigainya,” kata Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) Jenderal Soemitro tentang Sukendro.

Namun, sang perwira intelijen tetap berusaha melawan. Dia pernah menghuni bui Rumah Tahanan Militer selama 9 bulan pada 1967. Beruntung, selepas dari tahanan, Gubernur Jawa Tengah Supardjo Rustam mengangkatnya sebagai Direktur Perusahaan Daerah di Jawa Tengah.

David Jenkins mencatat bagaimana Sukendro di Masa Orde baru tetap melawan bersama jenderal-jenderal lain.


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •